Di tengah tantangan bisnis modern yang kian kompleks dan dinamis, manajemen risiko telah menjadi hal wajib untuk menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan. Namun, memiliki rencana manajemen risiko saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan dalam penerapan manajemen risiko itu sendiri. Banyak sekali perusahaan skala kecil hingga besar yang sudah menyadari sepenuhnya betapa pentingnya hal ini, seringkali melakukan kesalahan fatal dalam penerapan manajemen risiko di lapangan. 

Kesalahan-kesalahan ini, jika dibiarkan, bukan hanya membuat seluruh upaya manajemen risiko menjadi tidak efektif, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dari yang diproyeksikani. Untuk menghindari kesalahan tersebut, penting bagi setiap organisasi dan setiap divisi untuk memahami di mana letak kesalahan itu berada. 

Oleh karena itu, mengidentifikasi dan menganalisis kesalahan-kesalahan dalam penerapan manajemen risiko dapat memberikan gambaran agar risiko dikelola dengan lebih baik dan strategi manajemen risiko benar-benar berfungsi sebagai perisai yang kokoh.

List Of Contents

Kesalahan Utama dalam Proses Identifikasi dan Penilaian Risiko

1. Identifikasi Risiko yang Kurang Komprehensif

Ini adalah kesalahan mendasar. Manajemen risiko tidak akan efektif jika risiko hanya diidentifikasi secara parsial, tanpa melibatkan semua divisi atau aspek bisnis. Contohnya perusahaan manufaktur yang hanya fokus pada risiko operasional, misal kerusakan mesin, rantai pasok, tetapi mengabaikan risiko reputasi dari isu lingkungan atau risiko siber pada sistem operasionalnya, akan memiliki blind spot yang fatal. Padahal, risiko bisnis bisa datang dari mana saja.

2. Penilaian Risiko yang Subjektif

Setelah risiko teridentifikasi, kesalahan umum berikutnya adalah menilai tingkat risiko (kemungkinan dan dampak) berdasarkan asumsi atau bias individu, bukan data. Misalnya, tim meyakini sebuah risiko siber “tidak akan terjadi” karena belum pernah terjadi, padahal probabilitasnya tinggi berdasarkan tren industri dan kondisi pasar. Penilaian yang subjektif ini menyebabkan perusahaan mengabaikan ancaman nyata dan fokus pada hal-hal yang kurang penting.

3. Mengabaikan Risiko Internal dan Eksternal

Banyak perusahaan hanya fokus pada risiko internal (masalah operasional, human error) dan lupa mempertimbangkan risiko eksternal yang sama pentingnya. Perubahan regulasi, pergerakan pasar, fluktuasi ekonomi, hingga risiko reputasi yang dipicu oleh berita buruk di media sosial adalah contoh risiko bisnis eksternal yang dapat membawa dampak besar. Contoh perusahaan retail yang hanya memikirkan risiko stok menipis, tapi tidak memperhitungkan perubahan perilaku konsumen yang beralih ke belanja online, akan mengalami kerugian strategis.

Baca Juga : Pentingnya Analisis Probabilitas dan Dampak Risiko untuk Keberlangsungan Perusahaan

Kesalahan Umum dalam Penerapan Manajemen Risiko Bagi Perusahaan

Kesalahan Utama dalam Proses Penanganan dan Monitoring Risiko

1. Mitigasi Risiko yang Tidak Tepat atau Tidak Dieksekusi

Kesalahan ini sering terjadi, rencana manajemen risiko dibuat di atas kertas tapi tidak dijalankan di lapangan. Atau, tindakan mitigasi risiko yang diambil tidak efektif. Contohnya, sebuah bank memiliki SOP keamanan siber yang ketat, tapi karyawan tidak dilatih untuk menerapkannya dengan benar, meninggalkan celah bagi risiko operasional yang bisa dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

2. Kurangnya Komunikasi dan Kolaborasi Lintas Divisi

Informasi risiko tidak boleh menjadi “milik” satu divisi saja. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan kolaborasi. Jika tim operasional mengetahui adanya potensi masalah, tapi tidak melaporkannya ke tim manajemen atau keuangan karena ada “sekat”, maka seluruh proses pengendalian risiko akan gagal. Komunikasi yang buruk adalah risiko perusahaan terbesar.

3. Monitoring Risiko yang Tidak Berkelanjutan

Manajemen risiko bukanlah proyek sekali jadi, melainkan proses yang terus-menerus dievaluasi. Kesalahan umum adalah melakukan risk assessment di awal tahun, tetapi tidak meninjau atau memperbarui risk register saat terjadi perubahan besar di tengah tahun. Tanpa monitoring berkelanjutan, risiko operasional bisa berubah dan rencana yang ada menjadi usang.

Dampak dari Kesalahan Penerapan Manajemen Risiko

Kesalahan dalam manajemen risiko dapat berakibat fatal. Dampak terburuknya adalah:

  • Kerugian Finansial: Perusahaan dapat menghadapi denda, sanksi, atau biaya perbaikan yang besar.
  • Kerusakan Reputasi: Kepercayaan pelanggan dan stakeholder dapat menurun drastis.
  • Gangguan Operasional: Alur kerja terhambat, produktivitas menurun, dan rantai pasok terputus.
  • Gagal Mencapai Tujuan Bisnis: Risiko yang tidak terkelola akan menghambat pertumbuhan dan inovasi.

Manajemen risiko adalah proses krusial, dan untuk meraih manfaat maksimal, perusahaan harus menghindari kesalahan umum dalam penerapannya. Memahami risiko perusahaan, baik internal maupun eksternal, adalah langkah awal.

Sertifikasiku membuka pelatihan sertifikasi Manajemen Risiko bagi perusahaan yang ingin memastikan manajemen risiko diterapkan dengan benar. Melalui pelatihan manajemen risiko yang terstruktur, tim Anda dapat menguasai kompetensi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko operasional secara efektif, menjadikan manajemen risiko sebagai keunggulan kompetitif.


Ikuti Pelatihannya : Pelatihan Sertifikasi Manajemen Risiko Level Madya

Share This Article
Sertifikasiku
About Author

Sertifikasiku

Sertifikasiku, platform edukasi online, membantu anak bangsa untuk memiliki sertifikasi kompetensi profesi yang sangat berguna untuk bersaing di era global.